Aktivitas Harakah Islamiyah

Posted: April 5, 2011 in kumpulan ilmu islam

Apakah benar pendapat yang dikatakan oleh sebagian gerakan dakwah bahwa Islam mewajibkan membatasi aktivitas gerakanya hanya pada amar ma’ruf dan nahi munkar, dan bahwasanya tidak diperbolehkan menegah kemungkaran dengan tangan. Selain itu, tidak diperbolehkan pula melakukan aktivitas-aktvitas di bidang sosial kemasyarakatan atas nama gerakan, tap…i diperbolehkan bagi individu muslim, termasuk anggota suatu gerakan atas nama pribadi mereka. Yang menjadi pertanyaan: mengapa bagi individu diperbolehkan, sedangkan bagi gerakan dakwah tidak boleh?

Sesunguhnya masalah ini termasuk masalah fiqih yang penting dan sangat dalam pembahasannya, namun belum mendapat perhatian di kalangan para fuqahâ terdahulu, sehingga pemahaman masalah ini menjadi kabur. Hal tersebut ternyata dialami juga oleh kalangan intelektual muslim saat ini. Untuk menjelaskan pertanyaan tersebut dia tas, kami akan bertolak dari firman Allah SWT:

“(Dan) Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada Al Khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran 104).

Ayat yang mulia ini merupakan seruan yang sangat jelas kepada umat Islam untuk membentuk suatu jama’ah, kelompok dakwah atau sebuah partai politik Islam, sekaligus membatasi aktivitasnya kedalam dua kegiatan: pertama, berdakwah kepada Islam (terhadap pengikut agama lain); dan kedua, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah kaum muslimin.

Kita mengetahui bahwasanya pelaksanaan hukum syari’at Islam selain dibebankan kepada individu, juga dibebankan kepada ulil amri (penguasa) yang tangung jawabnya lebih berat dibandingkan tanggung jawab yang dibebankan kepada individu. Hanya saja satu halyang masih menjadi pertanyaan adalah apakah syari’at Islam membolehkan adanya jama’ah/kelompok dakwah atau partai politik Islam untuk melakukan aktifitas yang pembebanan pelaksanaan hukumnya ditujukan bagi individu atau ulil amri? Mengapa syari’at Islam membebankan berbagai hukum tertentu kepada jama’ah, kelompok dakwah, mupun partai politik Islam secara khusus, yang tidak diperuntukkan bagi individu dan ulil amri?

Memang benar bahwa keberadaan suatu jama’ah, kelompok dakwah atau partai politik merupakan fardlu kifayah, yakni suatu kewajiban yang dibebankan atas seluruh kaum muslimin. Sebab, perintah tersebut kepada kaum muslimin di setiap wilayah Islam, yaitu dengan firman-Nya:

“…Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat…” (Ali Imran, 104)

Ayat tersebut juga membatasi aktivitas jama’ah dalam dua hal seperti yang telah disebut di muka. Dalam hal ini syari’at Islam tidak hanya membatasi pembahasannya tentang urusan penguasa ataupun individu, tetapi juga membahas pula masalah gerakan. Bahkan, syaria’at Islam mengharuskan adanya jama’ah, kelompok dakwah ataupun partai-partai Islam pada setiap masa secara terus menerus, khususnya pada saat daulah Islam masih ada. Kalaupun tidak ada daulah Islam untuk seluruh kaum muslimin di dunia seperti keadaan saat ini, maka dalam hal ini terdapat dalil lain yang tetap mengharuskan adanya gerakan Islam, yaitu dengan berpedoman kepada kaidah syara’ yang mengatakan:

“Apabila suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan suatu perbuatan, maka perbuatan itu wajib hukumnya”.1

Sebab daulah Islam tidak akan tegak berdiri tanpa suatu gerakan Islam yang berupaya untuk menegakkannya.

Kita juga mengetahui bahwa mencegah kemungkaran dengan “tangan” yang merupakan aktivitas fisik seperti mengangkat senjata, tindakan kekerasan dan lain sebgainya, bukalah kegiatan amar ma’ruf nahi munkar (yang biasanya dalam bentuk aktivitas non-fisik, atau menyeru dengan menggunakan lisan) dan ayat 104 surat Ali Imran yang telah disebutkan di atas, membatasi aktivitas gerakan hanya untuk berdakwah saja, baik dakwah yang berupa ajakan untuk memeluk agama Islam, ataupun dakwah yang berupa ajakan melaksanakan Islam dengan cara amar ma’ruf nahi munkar, yang kesemuanya merupakan aktifitas fikriyah (mengajak berpikir dan menentukan sikap). Ayat itu tidak dapat dijadikan alasan ataupun dalil penggunaan “tangan” oleh gerakan dalam mencegah kemunkaran, walaupun bagi individu telah ada perintah yang membolehkan seseorang mencegah kemunkaran dengan “tangan” sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan pemahaman dari sabda Rasulullah SAW:

“Siapa saja di antara kalian melihat (suatu) kemunkaran, maka hendaklah ia berusaha mencegahnya dengan tangannya…”2

Para ulama sepakat bahwa kemunkaran itu tidak boleh dicegah dengan senjata. Seorang individu tidak wajib mencegah kemungkaran apabila tindakannya justeru akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi3. Inilah dalil yang membolehkan bagi individu untuk melakukan aktivitas yang tidak boleh dilakukan oleh suatu gerakan.

Contoh lain dari perbedaan antara aktivitas gerakan dengan individu adalah tindakan Abu Bakar ra. tatkala membebaskan Bilal ra, yang ketika itu masih berstatus budak milik Umayyah bin Khalaf. Setelah mengetahui Bilal ra. masuk Islam, Umayyah mulai menyiksanya dengan cara menjemurnya di siang hari yang terik dan ditindih batu besar, dengan tujuan agar ia meninggalkan Islam dan kembali pada kemusyrikan. Namun Bilal ra. tetap sabar menahan siksaan dan hanya mengucapkan kata “ahad” berkali-kali. Padahal sesuatu yang mudah bagi Nabi SAW, sebagai pemimpin gerakan Islam pertama di dunia, untuk mengumpulkan dana dari para Shahabatnya guna menebus dan membebaskan Bilal ra. serta Shahabat lainnya yang disiksa setelah masuk Islam. Namun demikian beliau tidak melakukannya!

Kita memahami bahwa apabila perbuatan seperti itu merupakan suatu keharusan untuk dilakukan, tentulah harus segera dilaksanakan. Namun ternyata Nabi SAW, sebagai pemimpin gerakan Islam, tidak melakukan gerakan apapun walaupun beliau mampu. Dari sini dapat dipahami bahwa aktivitas seperti itu atau yang serupa dengannya bukanlah kegiatan dan tanggung jawab gerakan. Dalil tersebut sekaligus membuktikan bahwa ada aktivitas yang individu boleh melakukan apa yang tidak boleh dilakukan oleh suatu gerakan.

Di antara hal-hal lain yang membedakan secara nyata antara aktivitas individu dengan aktivitas gerakan adalah sebagaimana yang dicantumkan dalam kitab-kitab shirah Nabi SAW, bahwasanya ‘Abdur Rahman bin ‘Auf ra. dan beberapa orang Shahabat lainnya mendatangi Rasulullah seraya berkata: “Yaa Nabi Allah, dahulu tatkala kami masih musyrik, kami dimuliakan. Tetapi tatkala lami telah beriman, kami dihinakan”. Rasulullah SAW menjawab:

“Aku telah diperintahkan untuk menjadi orang pemaaf. Karena itu janganlah kailan memerangi mereka (Quraisy)” (HR an Nasa’i.4

Namun demikian dalam catatan sejarah, Sa’ad bin Abi Waqash ra. atas nama pribadinya pernah melakukan indakan yang bersifat fisik, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Shirah Nabi SAW.

Diceritakan bahwa sekelompok Shahabat termasuk di dalamnya Sa’ad bin Abi Waqash sedang melakukan shalat di salah satu lembah kota Makkah. Mereka menyembunyikan aktivitas itu dari orang-orang kafir. Tetapi sekelompok orang musyrik melihat perbuatan tersebut dan mulai mengganggu serta mencaci-maki mereka. Akhirnya terjadi perkelahian antara dua kelompok itu. Keadan tersebut mendorong Sa’ad memukul salah seorang musyrik dengan rahang unta sehingga berlumuran darah (lalu mati). Peristiwa ini merupakan pertumpahan darah yang pertama di dunia Islam. Berita tersebut kemudian sampai kepada Rasulullah SAW, tetapi beliau mendiamkannya (membolehkannya)5.

Dari pengaduan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf ra. dan kemudian Rasululah SAW menjawab agar bersifat pemaaf dan tidak membolehkan mereka memerangi orang-orang Quraisy atau yang lainnya, maka kita dapat memahami bahwasanya Rssulullah SAW tidak membolehkan gerakan melakukan reaksi terhadap tindakan kekerasan dengan cara melakukan reaksi terhadap tindakan kekerasan dengan cara membalasnya. Yang beliau lakukan dalah adalah menyuruh para Shahabat untuk menahan diri. Padahal ketika itu Rasulullah SAW mampu mengerahkan kaum muslimin untuk bereaksi membalas kekerasan yang dilakukan orang-orang kafir itu dengan perbuatan setimpal dalam setiap peristiwa/kejadian yang menyakiti dan membahayakan kaum muslimin. Namun ternyata beliau tidak melakukannya meskipun tindakan itu dibutuhkan, dan walaupun pengaduan dari Shahabat agar Rasulullah SAW mau melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau melarang kaum muslimin melakukan tindakan kekerasan/fisik atas nama gerakan, namun diperbolehkan bagi individu atau anggota gerakan melakukannya atas nama pribadi mereka apabila diancam atau dianiaya dan disiksa.

Dalil-dalil lain yang lebih memperkuat pemahaman ini adalah tindakan dan aktivitas dakwah Rasulullah SAW di Makah yang berlangsung selama 13 tahun. Beliau melakukan aktivitas dakwah dan meminta pertolongan kepada orang-orang terkemuka dari seluruh jazirah Arab dengan tujuan agar dakwah beliau berhasil dalam nenegakkan daulah Islam. Rasulullah SAW dalam hal ini telah membatasi kegiatannya dalam aktivitas-aktivitas yang bersifat non fisik (fikriyah). Beliau tidak pernah melakukan aktivitas apapun yang bersifat fisik, sebagaimana yang dikatakan kepada para Shahabatnya setelah Bai’at Aqabah II:

“Kita belum diperintahkan melakukan hal ini (tindakan kekerasan).”6

Beliau menolak tawaran para pemimpin Madinah untuk memerangi penduduk Mina (jama’ah haji dari seluruh Jazirah Arab) dengan pedang. Beliau tidak mengatakan kepada mereka: “Kita belum mampu”, tapi beliau mengatakan: “Kita belum diperintahkan melaukan hal itu”. Dan Rasulullah SAW baru mengizinkan mereka melakukan perang setelah beliau bersama kaum Muhajirin hijrah ke Madinah dan setelah berdirinya daulah Islam di sana. Saat itulah diturunkan firman Allah SWT yang berbunyi:7

“Telah diberi izin (untuk berperang) bagi orang –orang yang telah diperangi, karena mereka dizhalimi.” (QS al Hajj: 39)

“Mafhum Mukhalafah” dari ayat ini menunjelaskan bahwa sebelum hijrah, kaum muslimin tidak diizinkan untuk berperang. Mafhum Mukhalafah ini merupakan hujjah yang wajib dilaksanakan serta dijadikan pedoman bagi setiap gerakan Islam. Lebih dari itu Allah SWT berfirman:

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:’Tahanlah tanganmu (dari berperang), dan dirikanlah shalat’”. (QS. An Nisa: 77)

Ayat ini diturunkan pada saat daulah belum terwujud, sementara ada satu gerakan yang dipimpin Rasulullah SAW yang anggotanya adalah individu-individu muslim (kaum Muhajirin), yang berupaya keras untuk mendirikan daulah Islam dengan menghabiskan waktu 13 tahun lamanya. Setelah itu timbul kebutuhan untuk melakukan aktivitas fisik. Akan tetapi sebelumnya kaum muslimin sebagai sebuah kesatuan gerakan, telah dilarang melakukan aktivitas fisik tersebut. Malah mereka diperintahkan untuk bersabar dan menahan emosi. Bahkan sebagian besar dari mereka diizinkan berhijrah ke Habsyah demi menghindarkan diri dari fitnah (paksaan untuk meninggalkan Islam).

Dari sini kita dapat memahami bahwasanya syari’at Islam telah membedakan antara hukum yang dibebankan kepada gerakan dengan hukum yang dibebankan kepada individu dan penguasa. Namun perlu diingat pula bahwa perbedaan hukum-hukum terhadap jama’ah, kelompok dakwah dan partai politik Islam dengan hukum-hukum yang menyangkut individu di dalam suatu gerakan, hanya terbatas pada gerakan yang mengemban dakwah Islam yang bertujuan mendirikan daulah Islam saja. Atau dengan kata lain hanya pada kelompok dakwah yang aktivitasnya bersifat politis yang melakukan aktivitas berdasarkan apa yang telah diserukan dalam surat Ali Imran ayat 104, meneladani cara kelompok dakwah pertama dalam sejarah umat Islam, yaitu kelompok para Shahabat yang dipimpin Rasulullah SAW.

Adapun kelompok-kelompok kaum muslimin lainnya (selain gerakan politik), terhadap mereka hanya dapat diterapkan hukum-hukum syara’ yang menyangkut masalah individu. Sama halnya dengan suatu jama’ah (sekelompok orang) yang sedang bepergian. Status hukum yang menyangkut mereka, sama dengan hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, baik mereka mempunyai pemimpin lebih dari satu, ataupun tanpa pemimpin. Demikian pula halnya dengan suatu kelompok masyarakat yang membentuk suatu lingkungan, atau organisai-organisasi sosial yang bergerak di tengah-tengah masyarakat; semua kelompok ini dan yang serupa dengannya, terhadap mereka diberlakukan hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, walaupun aktivitas sosial kemasyarakatan itu mereka laksanakan secara bersama-sama serta tolong menolong. Dengan kata lain, mereka dianggap sebagai sebuah organisasi/sekelompok orang, namun tidak dapat dikategorikan sebagai gerakan politik atau sebagai gerakan dakwah Islam.

1 Lihat al Muwafaqât, Imam asy Syathibi, jilid II, hal. 394

2 Lihat Shahih Muslim, hadits no. 49

3 Lihat Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, jilid II, hal. 12-35.

4 Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam ath Thabari, Ibn Abi Hatim, al Hakim dan al Baihaqi. Lihat Sunan an Nasa’i. Jilid VI, hal 2-3; Ad Darrul Mantsur, Imam as Suyuti, jilid II, hal 594.

5 Lihat Shirah ibn Hisyam jilid I, hal. 263; As Shirah an Nabawiyah, Imam Adz Dzahabi, hal. 84

6 Lihat Shirah ibn Hisyam, jilid I, hal. 448; Ash Shirah an Nabawiyah, Imam adz Dzahabi, hal. 202.

7 Lihat Ash Shirah an Nabawiyah, Imam adz Dzahabi, hal. 467-468.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s