Hukum syara’ seputar Valentine Day

Posted: February 9, 2011 in hakikat hidup muslim

Hajatan V-Day, ibarat sekam yang siap menyala dan membakar apapun yang ada di sekitarnya. Dari luar memang tidak mengundang bahaya high class, tapi ibarat diamnya gunung berapi, V-Day bakal suatu saat meledak dan membuat geger, siapa saja yang ada didekatnya. Sangat berbahaya. Tak mustahil bagi generasi muda yang masih labil, akan termakan dan tergoda rayuannya, kemudian mengadopsinya sebagai gaya gaul remaja yang lagi in. Nggak peduli budaya V-Day ini bertentangan dengan Islam sebagai way of life-nya. Padahal berabad-abad yang lalu Allah swt sudah mengingatkan kepada kita dengan firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS: Al Isra’: 36).

Apalagi budaya tersebut memang berasal dari aqidah sekular milik orang Barat. Firman Allah swt:

“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu (keterangan-keterangan), sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dholim.” (QS: Al Baqarah: 145).

Ada suatu kaidah syar’iyah yang berbunyi: “Asal (pokok/dasar) perbuatan adalah terkait (terikat) dengan hukum-hukum Islam.” Termasuk dalam berkasih sayang versi V-Day ini, wajib tahu hukumnya. Biar kita tidak nyesel seumur hidup. V-Day yang mengusung kemasan ‘kasih sayang’ memang telah berhasil memalingkan dari kasih sayang yang suci dalam pandangan Islam. Kasih sayang yang dimuat V-Day itu bernuansa kebebasan bergaul. Dan ini jelas sangat berbahaya. Karena konsekuensi dari masalah ini adalah halal atau haram alias pahala dan dosa.
-Day sengaja digelar untuk mencuci pemikiran generasi muda Islam. Paling tidak ide kebebasan bertingkah laku alias hurriyatus syakhshiyyah yang telah menjadi tren bagi generasi muda. Gaul bebas dengan lawan jenis bukan hal yang tabu lagi. Malah bisa jadi sebagai sebuah keharusan yang tak bisa ditolelir lagi. Kayaknya sudah seperti hidup atau mati urusannya. Berbahaya memang. Kemasan V-Day memang mampu menyihir siapa saja yang kendor imannya.

Sebagai seorang remaja muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu saja kita tidak layak mengikuti budaya yang tak jelas jluntrungannya. Terlebih V-Day ini adalah produk peradaban Barat yang sekuler—yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. V-Day hanya sebuah sarana dari sekian banyak sarana peradaban Barat yang notabene terbilang maju. V-Day adalah sebagai alat penjajahan Barat. Paling tidak dari sisi budaya dan gaya hidup. Ada baiknya kita merenungkan pernyataan sosiolog muslim yang terkenal, yakni Ibnu Khaldun.:

“Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”

V-Day telah memakan banyak korban, khususnya remaja. Kita tertipu di balik gemerlapnya V-Day yang telah menikam perasaan dan pikiran sehat kita. Dan kita menjadi liar dalam mewujudkan kasih sayang. Hati-hati, jangan sampai celaan Nabi kita dialamatkan kepada kita melalui sabdanya:

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Hajatan V-Day itu ternyata merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Rasulullah saw, orang yang paling mulia dengan tegas memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum atau bangsa lain, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.” Di antara saha­bat ada yang bertanya: “(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?” Rasulullah saw menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)” (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).

Makanya, benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab bahwa al ilmu qobla al amal, artinya bahwa ilmu itu musti ada sebelum perbuatan. Dengan demikian, sebelum kita tahu status hukum suatu perbuatan, tidak boleh melakukan perbuatan tersebut. Jadi, segala sesuatunya harus jelas. Tidak boleh samar, dan harus tahu status hukum perbuatan yang bersangkutan.

Untuk itu kita perlu secara jelas mengklasifikasikan, dimana sebenarnya letak ketidakbolehan kita sebagai muslim melaksanakan ritual V-Day:

1- Menyerupai orang kafir

Imam Ibn Hajar al-Asqalani telah mengumpulkan perbuatan-perbuatan dan kebiasaan Rasulullah yang secara sengaja membedakan diri kita sebagai muslim dengan orang-orang kafir (yahudi, nasrani, majusi) hingga berjumlah sekitar 30 macam. Semuanya dikumpulkan dalam kitabnya secara khusus, yang berjudul, Al-Qawli ats-Tsâbit fi ash-Shawmi Yawmu as-Sabt.

Perbuatan atau kebiasaan apa saja yang berasal dari kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir, yang terpengaruh oleh ideology atawa ajaran agama ataupun pemikiran mereka, tidak boleh diikuti dan ditiru-tiru kaum Muslim. Sebab, Rasulullah saw. telah memberikan kepada kita peringatan hanya pada dua hari saja, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya tidak.

Di samping itu, secara tegas Rasulullah saw. mengelompokkan kaum Muslim yang mengikuti perayaan dan kebiasaan orang-orang kafir sama seperti mereka dan tidak termasuk golongan Rasul (kaum Muslim).

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan mereka. (HR Abu Daud dan Ahmad).

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golonganku. (HR at- Tirmidzi).

Maka sangat jelas, kita kagak boleh tashabuh alias menyerupai, meniru-niru cara hidup orang kafir yang lahir dari pandangan hidupnya. Ingat Ya! Pandangan hidup (view of life) atau hadlarah. Sudah seharusnya kita tinggalkan semua budaya, hadlarah kufur termasuk perayaan V-Day.

Di sisi lain, Nabi mengatakan bahwa, ”Barangsiapa melakukan amal yang tiada didasari perintahku (Quran dan Sunnah), maka amal perbuatannya tertolak” (HR. Ahmad).

Sangat jelas, sejelas matahari di siang bolong bahwa ikut merayakan hari valentine adalah tindakan yang dilarang oleh Islam dan haram bagi kaum muslimin untuk merayakan. Valentine sendiri akar kemunculannya dari orang kafir (Romawi Kuno), dan Barat (Nasrani), maka sudah sepatutnya seorang muslim meninggalkan hal tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata,

“Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global”.(Lihat Al-Iqtidho’ hal.186)

Maka sangat benar apa yang disabdakan oleh Nabi Saw dalam sebuah hadits shohih,

“Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani”. Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. (HR. Al-Bukhoriy dari Abu Sa’id Al-Khudriy)

Rasulullah Saw, juga bersabda, “Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” (HR. Al-Bukhariy dan Muslim)

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)

“Tapi, kita khan cuma kebetulan atawa cuman insident (bukan merk pasta gigi lho) aja ikutan valentine’s day. Kita nggak meyakini apalagi mengimani sejarahnya”. Ya, OK kalo kamu ngomong gitu sih. Tapi yang jadi soal adalah riil perbuatan kamu. Rasulullah pernah bersabda “nahnu nakum bi dhohir” artinya: kami menghukumi kalian apa yang (nyata) kelihatan”. Jadi kalo kamu secara riil ngikutin akvitas ber-V-Day ria, maka perbuatan itulah yang bakal dihukumi.

Memang tidak ada secara langsung ayat atau hadits menjelaskan kesalahan atau kebobrokan V-Day, tapi Allah dan Rasul-Nya melarang suatu perbuatan tidak harus diperinci atau dijelaskan satu per satu perbuatan yang terkategori terlarang, cukup dengan makna tersirat atau ekplisit disampaikan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Larangan merayakan V-Day terkategori dalam firman Allah dan sabda Rasul-Nya seperti disebutkan diatas.

Jika kamu mafhum (paham) dengan hadits-hadits diatas, maka sudah barang tentu konsekuensi dari pemahaman adalah meninggalkan segala aktivitas yang termasuk dalam larangan meniru atau menyerupai orang kafir (tasabuh). Tanpa bertanya lagi apa manfaat (maslahat) dari meninggalkan larangan itu, sebab Allah Maha Mengetahui termasuk tentang kemanfaatan dari syariat yang dibuat-Nya.

So, tidaklah umat Islam kalau kamu masih merayakan V-Day, meski kamu sholat sampai jidat kamu hitem, meski kamu puasa sampai badan kamu lunglit (balung-kulit) kalau kamu masih merayakan V-Day sama halnya dengan mengisi air di tong yang bocor, hasilnya? Nol. Sebab acara ritual itu berasal dari umat yang Aqidahnya rusak seperti di ceritakan di atas, kalau kita mengikutinya sama rusaknyalah kita dengan mereka, sama bodolah kita dengan mereka, sama jahilnya kita dengan mereka. Lalu dimanakah kemuliaan Islam itu, kalau Allah mengatakan dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya dien (agama) yang diridhloi oleh Allah hanya Islam” (QS. ali-Imron 19) atau Sabda Rasulullah Saw. : “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya” (HR. Muslim)

2- Menghantarkan perzinaan

Aktivitas merayakan V-Day nggak usah ditutup-tutupi udah pasti berbau pergaulan bebas. Nggak usah divonis, semua orang juga tahu (malaikat juga tahu) kalo yang namanya V-Day identik dengan akvitas hura-hura. Laki-perempuan campur aduk, persis es cendol, nggak pake hijab (emangnya pengajian), trus yang punya pacar mojok ama pacarnya, entah di café, di mall, resto atau bahkan berduaan di hotel. Wah, alamat kalo mereka udah berani berduaan berarti zina yang sesunguhnya bakal terjadi.

Padahal sudah sangat jelas bahwa hukum asal kaum wanita dan laki-laki adalah terpisah sebelum ada dalil atau keperluan syar’i yang menuntut keduanya bertemu, misalnya berdagang, bekerja, beribadah, haji, sholat, menikah dll. Itupun mereka harus memperhatikan syarat-syarat pergaulan atau akhlak wanita berhubungan dengan laki-laki, menutup aurat dengan menegenakan kerudung dan jilbab, tidak berdandan berlebihan, dll.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32). Dalam melarang zina, Allah sudah memperingatkan kita agar jangan mendekati yang mengantarkan zina seperti pacaran, berduaan, berpegangan, berpelukan (kayak teletubbies) atau yang biasa disebut KNPI (kissing, necking, petting, dan intercouse).

Rasulullah Saw, juga bersabda,

“Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram”. (HR. Al-Bukhoriy dan Muslim)

Rasulullah Saw bersabda:

“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Ath-Thabrani)

Wuih ngeri banget ya, sampe ditusuk jarum besi kepalanya, hiii. Andai saja para penikmat pacaran itu tahu dan paham hadits ini. Tapi sayang, cinta yang sebenarnya anugerah suci dari Allah SWT, sudah diidentikkan dengan pacaran. Dan pacaran juga sudah jadi barang wajib bagi remaja. Terlepas apa tujuan mereka berpacaran. Mungkin ada yang bilang kalo tujuan mereka pacaran adalah untuk saling mengenal sebelum memang yakin untuk married. Sepintas mulia banget tujuan itu, tapi pada tingkatan tertentu dan beberapa kasus dua insan berlainan jenis itu ketika memadu kasih, nggak bisa menahan diri. Lalu, kemana kemudian ‘tujuan mulia’ tadi?

“Itu khan kasuistik, nggak bisa dijadikan alasan untuk melarang pacaran”. Mungkin ada yang bilang seperti itu. Sobat, kita perlu ingatkan bahwa apa yang sedang kamu lakukan ketika berpacaran adalah pemenuhan dari naluri (gharizah). Sementara ciri dari gharizah itu adalah terangsang. Nggak peduli siapapun orangnya. Nah, ibarat kucing nemuin mangsanya, ketika naluri itu menemukan pelampiasan, maka otomatis, refleksitas untuk menyatakan cinta, berpegangan, berpelukan itu pun terjadi. Makanya Islam khan mewanti-wanti supaya kita jangan mendekati zina (lihat QS al-Isra 32).

Sebab sudah jadi hal yang jamak, karena hubungan pacaran yang terlalu bebas, dua insan yang dimabuk cinta, saat hawa nafsu telah membius mereka, maka zina bisa aja terjadi. Dan kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi, konsekuensi dari berbuat zina sangat berat baik beban mental, psikis maupun fisik.

Gimana nggak? Bagi seorang gadis yang hamil di luar nikah karena zina, seringkali menyisakan rasa malu yang begitu dalam. Gara-gara hamil di luar nikah, sekolah terpaksa drop out. Dan semua orang udah tahu, kalo dia sudah nggak virgin lagi. Duh, malunya minta maaf (sorry, bosen pake kata, ampun). Tambah lebih malu lagi plus gondok, kalo sang pacar ternyata nggak mau mengakui alias nggak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Waduh, mau ditaruh dimana tuh pantat…ehh maksudnya muka. Kalo begini jadinya, seakan suram sudah masa depannya. Memang penyesalan selalu datang terlambat. Nggak pernah kapok apa ya yang namanya ‘penyesalan’? Padahal kalo terlambat, pasti dapat hukuman …..lhoo..lho..koq gak nyambung.. tettt..!

Belum lagi kalo kelak anaknya lahir ke dunia. Pasti tetangga sebelah akan bilang ‘anak haram’. Padahal yang haram perbuatan orang tuanya yang telah berzina. Sungguh ini suatu aib yang sulit untuk ditutupi. Bagi yang nggak kuat, bisa mengakhiri hidupnya, gantung diri di pohon tomat…hee..hee.

Bagi orang tua yang nekad dan nggak tahu dosa, pilihannya adalah mengaborsi si jabang bayi dalam kandungannya itu. Tapi nggak jarang juga, begitu anaknya lahir, seringkali ia hanya dibuang begitu saja, seperti sampah yang tak berharga. Itu artinya, dosa baru telah tercipta, karena mengakhiri sebuah nyawa yang tak berdosa.

Begitulah, zina ternyata tidak henti-hentinya membikin runtutan dosa lainnya. Belum lagi, ternyata zina juga dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya. Baik diantara mereka masing-masing memang sebelumnya bujangan, ataukah sebenarnya mereka ada yang sudah punya keluarga. Puihhh… parah jadinya.

Kalo si cewek yang berzina trus hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu, maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang nggak berdosa. Tapi kalo dia adalah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan perselingkuhan sehingga dia hamil, dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disadari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.

Ini peringatan bagi para pelaku pacaran yang otomatis telah berzina. Maka sebenarnya dia telah mengorbankan kebahagian masa depannya. Masa depan pernikahan yang harusnya dilalui dengan keindahan, karena bertemu calon suami atau isteri yang masih virgin, menjadi sangat buram. Karena kita tidak bisa memberikan keperawanan dan keperjakaan tangan kita, leher kita, (apapun yang pernah dijamah dan menjamah oleh dan untuk pacar kita) kepada pasangan kita kelak. Kenikmatan ‘malam pertama’ yang indah dan penuh kejutan sudah nggak ada. Karena semua sudah dirasakan sebelum menikah dengan pacar pertamanya yang belum tentu jadi suaminya. Kalo pun toh pacar itu emang jadi suaminya, maka keduanya terjerambab pada kejenuhan, penyesalan dan keterpaksaan. Bisa jadi salah satunya timbul rasa tidak percaya pada pasangannya, karena menurutnya kalo di masa pacaran dulu, mudah dirayu untuk diajak zina, berarti bisa jadi ketika sudah menikah, nggak menutup kemungkinan, diajak selingkuh dengan PIL atau WIL pun Ok.

Itulah zina yang telah mengenyahkan harga diri para pelakunya, merusak masa depannya, dan juga meninggalkan aib yang berpanjangan bukan saja kepada pelakunya tapi kepada seluruh keluarganya. Jadi masihkah kita mendekati zina? Atau sebaliknya maukah kita menjaga keluarga kita dari ancaman zina yang membius dan mengancam dari berbagai pihak? Semoga kita selalu diberi hidayah untuk selalu berada di jalan yang lurus. Amin

3- Percaya dengan paganisme

Ibnul Qayyim rahimulloh berkata :

“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

V-Day dipercayai sebagai ritual yang dilakukan oleh para penyembah berhala Juno di jaman Romawi Kuno. Dalam khazanah Islam, perbuatan seperti itu terkategori syirik alias menduakan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan yang wajib kita sembah dan kita ibadahi.

Upacara V-Day di masa kuno, udah dijelaskan secara gamblang di bab sebelumnya, tolong dibaca lagi ya! Meskipun sebenarnya banyak versi juga tentang cerita Valentine. Tapi semua orang sepakat, pun orang Nasrani khususnya pihak gereja yang akhirnya menjadikan upacara Romawi Kuno itu sebagai bagian dari ritual gereja yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.

Rasulullah saw. sudah mengingatkan kita melalui sabdanya:

Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR Bukhari Muslim)

Lagian, harus ditambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakan-akan kalo berasal dari tradisi, masih boleh kita merayakannya, sementara kalo dari agama lain hukumnya nggak boleh.

Bukan seperti itu. Itu standar yang batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al-A’raaf 3)

Kalimat “maa unzila ilaykum min rabbikum” dalam ayat di atas yang berarti “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”, artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut : Dar Shaadir], Juz III/2).

Jadi suatu perbuatan itu boleh atau nggak untuk dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan.

Sungguh kalo seorang muslim menggunakan tolok ukur melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi nggak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam. Contohnya, free seks pada masyarakat Barat yang Kristen. Free seks jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina. Lalu, apa karena alasan free seks itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap kagak boleh, khan?

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk V-Day, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, termasuk juga memberi ucapan selamat. Semuanya haram.

Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,”Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka…” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT :

“Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS Al-Furqan 72).

Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur. Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah ” tidak menghadiri kebohongan”, bukannya ” memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Valentine’s Day, Imlek, dan sebagainya.

Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat :

“Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah 145).

Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi Saw, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir (seperti turut merayakan hari raya mereka). Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

So, berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, maka haram hukumnya seorang muslim turut merayakan V-Day dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Happy Valentine kepada siapa saja. Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan V-Day, seperti live band, kirim kado, dan sebagainya.

Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

4- Mengakui Yesus sebagai Tuhan

Diluar perbedaan pendapat di kalangan kristiani sendiri, tapi perayaan Hari Valentine tetap bermuatan ajaran Kristen. Dimana Kristen sebagai sebuah agama, mengajarkan tentang ajaran trinitas yang menyatakan “Yesus sebagai Anak Tuhan”. Merayakan V-Day secara langsung atau nggak, berarti ikut mengakui ajaran Kristen tersebut.

Dogma bahwa “Yesus sebagai anak Tuhan” jelas tertolak secara logika apalagi nash Al-Qur’an dan Hadits. Untuk itu perlu ada ketegasan sikap dari para pemuja V-Day, terutama yang muslim, bahwa jika mereka masih aja ngerayain V-Day, maka dia telah berbuat kesyirikan. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah 72)

Tuh khan, dengan tegas bin gamblang Allah bakal menggolongkan kita sebagai orang kafir, kalo kita mengakui Yesus sebagai tuhan. Dan sudah jelas juga bahwa balasan bagi orang yang kafir adalah neraka. Naudzubillah min dzalik.

Valentine merupakan ritual agama Kristen, sehingga Valentine merupakan ibadah bagi agama Kristen, bukti bahwa Valentine sebagai ritual agama Kristen adalah ritual Valentine tersebut dikukuhkan oleh seorang Paus Galasius untuk memperingati dua orang yang diberi gelar orang suci (santo) oleh orang-orang Kristen.

Bagi seorang muslim mengikuti Valentine sama aja dengan mengikuti peribadatan orang Kristen. Di samping itu ada bahaya yang lain yaitu sinkretisme antara agama Islam dan Kristen. Tahu khan sinkritisme? Kalo belum tahu dan mau dikasih tau, sinkritisme adalah berupa ajaran/ ide yang mengajarkan bahwa semua agama itu sama. Para penganut sinkritisme (kaum pluralis) menganjurkan agar salah satu agama nggak usah melakukan truth claim alias klaim kebenaran, karena menurut mereka pada dasarnya semua agama mengajarkan kebenaran. Kayaknya sepintas ide ini manis, tapi perlu kamu ketahui sobat, bahwa sebenarnya ide ini ide iblis.

Ide truth claim dikembangkan oleh kaum pluralis yang menginginkan untuk melenyapkan truth claim, yang dianggap sebagai pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, penindasan antar umat atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama akan sirna, kalo semua agama/orang mengakui semua agama benar.

Adapun untuk merealisasikan idenya tersebut, terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama, mereka yang menghendaki dibentuknya agama universal (global religion) dengan cara menghapus dan mencairkan semua identitas-identitas semua agama untuk dijadikan satu agama global yang harus dianut seluruh umat manusia. Kelompok kedua adalah mereka yang menggagas kesatuan dalam hal yang transenden (unity of transenden), artinya mereka berpandangan semua agama memiliki gnosis yang sama yakni menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Sehingga intinya, kita gak boleh meributkan dan bahkan harus mengakui semua agama dan pemeluknya berhak masuk surga.

Sobat, sebenarnya ide sinkritisme atau truth claim ini berawal dari cara pandang orang Barat tentang kebebasan berpendapat atau beragama (huriyatul aqidah). Secara logika saja, ide ini jelas imposible. Bagaimana mungkin satu agama disuruh mengakui agama lain. Meski orang diluar Islam pun pasti nggak setuju untuk mengakui agama lain. Sebab, memang orang beragama tertentu, karena menurutnya (secara aqidah) agama yang dianutnya sebagai agama yang benar. Sehingga penyatuan semua agama (diambil baiknya aja) menjadi agama global jelas nggak mungkin bisa dan pemeluknya nggak akan mungkin rela.

Tapi disi lain Barat dengan ide HAM dan demokrasi sering bermuka dua dalam memandang truth claim ini. Buktinya demokrasi memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan macam agama Kabalah yang dianut Madonna atau agama Scientologi yang dianut Tom Cruise. Selain itu, muncul banyak sekte sesat yang menyajikan bunuh diri massal seperti The Heavens Gate (Gerbang Surga) yang didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie “TI” Lu Trusdale Netteles atau sekte Aum Shinri Kyo yang didirikan pada 1987 oleh Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto di Jepang sebagai solusi dalam mengatasi problema hidup mereka. Di negara macam Amrik banyak lahir ajaran agama selain Kristen. Sebut aja ada Klu Klux Klan, ada sektenya Charles Manson yang ngetop di tahun 60-an karena melakukan pembunuhan terhadap sejumlah wanita termasuk seorang aktris terkenal, ada juga sekte Temple’s People yang dipimpin pendeta Jim Jones, ada nabi yang bernama David Koresh yang kemudian melakukan baku tembak dengan polisi federal AS (FBI), dan terakhir adalah sekte Gerbang Surga yang melakukan aksi bunuh diri massal di tahun 1997. Termasuk di negerinya anak singkong ini. Ada Om Mushadeq, Tante Lia Edan, Gus Roy, dan kroninya yang lain. Mereka ada dan semakin bertahan kalo masih ada ide truth claim.

Katanya Islam gak boleh truth claim tapi begitu muncul aliran sesat atau agama baru, atau banyak orang melecehkan nabi lewat kartun, mereka malah dibiarkan aja melakukan truth claim. Apa itu gak standar ganda namanya? Yo wis, klo gak bisa dikatakan standar ganda, kita katai aja standar ”Sak enake udele dhewe”. Orang yang melakukan tuduhan truth claim atau mereka yang menyamaratakan semua agama, sama aja mereka menyamakan wajah cool-nya Nicholas Saputra dengan seekor kera. Nyambung gak sih?

Allah telah memerintahkan kita untuk tidak mencampuradukkan ajaran agama Islam dengan ajaran agama manapun termasuk Kristen :

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. (QS. Al-Kafirun 1-6)

Mengokohkan penjajahan Barat

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Pihak Barat memang tidak pernah bosen mengajak ‘perang’ dengan Islam. Perang fisik atau militer itu senjata kuno, mereka sudah memodifikasinya dengan perang pemikiran. Beda banget dengan perang fisik, perang pemikiran ini kesannya halus, nggak kerasa, tapi begitu tahu kita sudah jadi korbannya dengan pemikiran dan tingkah laku kita sudah seperti Barat.

V-Day sudah diakui oleh siapapun sebenarnya sebagai alat penjajahan Barat. Dia telah berhasil merusak tatanan masyarakat timur apalagi Islam, mengikuti Valentine bukan saja sekedar pesta untuk menyatakan kasih sayang, tetapi juga pesta yang mau-tidak-mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, ciuman antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya, hidup glamour, materialistis, dansa-dansa, mengumbar nafsu dan lain-lain.

Dengan semakin banyaknya pendukung V-Day atau paling nggak dengan ngototnya remaja kita ngerayakan V-Day, secara nggak langsung kita telah mempopulerkan budaya Barat yang bejat. Hantaman budaya barat itu semakin nggak bisa kita tahan, karena ternyata institusi negara kita memfasilitasi. Coba perhatikan, dari cara gaulnya remaja kita, diajari dengan tayangan sinetron, musik yang tiap harinya ngebahas tentang cinta melulu. Sementara pelajaran agama di sekolah cuman dikasih jatah 2 jam seminggu. Sehingga remaja sebenarnya lebih seneng bersekolah di sinetron remaja, ketimbang di sekolah beneran. Akhirnya, impian mereka untuk jadi bintang pun menggebu-gebu. Apa harapannya kalo udah jadi bintang? Udah pasti tajir, terkenal, dipuja sana-sini, mau beli apapun bisa. Termasuk kalo dunia pun bisa dibeli, mereka beli. (nggak segitunya kale..!)

Nggak cukup cuman fasilitas itu. Negara pun memperlihatkan dengan kentara sebagai kaki tangan penjajahan ide Barat. Gimana nggak? Kalo akhirnya di negeri kita yang penduduk muslim berjumlah 85% lebih, tapi pemerintah berani-beraninya membuatkan ATM kondom. Padahal kita tahu banget, alat yang namanya kondom dipake untuk berzina (kalo pemakainya remaja yang belum nikah, atau para penyelingkuh). Dan zina itu sendiri dalam Islam kagak boleh alias haram. “Tapi, negara kita khan bukan negara Islam?” Ya, emang bukan negara Islam, tapi pak presiden-nya khan orang Islam, menteri-nya juga banyak orang Islam, yang mau dilayani untuk beli kondom juga orang Islam, trus apa Islamnya cuman KTP doang? Kalo yang Islam cuman KTP, nggak salah dong kalo entar yang masuk surga, KTP-nya. Gejlig!

Belum lagi, negeri kita berada di posisi kedua sebagai negara paling porno. Bangga nggak? Yee… itu mah bukan prestasi tapi aib tahu !?! Nah, kalo bicara industri seks negeri kita juga terkenal di dunia, bro! Itu tuh, Gang Dolly di Surabaya yang jadi jagoannya. Yup, memang pornografi dan industri seks secara sengaja difasilitasi oleh negara dengan adanya lokalisasi WTS.

Semua fasilitas diatas secara langsung atau nggak, memudahkan untuk menikmati perayaan V-Day. Cukuplah firman Allah SWT ini sebagai renungan:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron 149)

Nah sobat muslim, itu tadi seambreg dalil yang jadi alasan Islam untuk ngelarang kamu ngerayain V-Day. Bagi seorang muslim, jika Allah dan Rasul-Nya udah menetapkan suatu ketentuan, nggak boleh baginya ragu untuk mengambilnya.

Sebagaimana Allah firmankan:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nur 51)

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab 36)

Sobat, nggak lengkap rasanya kalo Islam cuman ngelarang doang tapi nggak pernah ngasih solusi gimana supaya peluang pergaulan bebas itu nggak pernah terjadi. Untuk itulah, Islam juga menyediakan seperangkat aturan-aturan yang memuat tentang etika ketika bergaul dengan lawan jenis. Sehingga celah-celah yang bisa menghantarkan kita berbuat dosa yang salah satunya adalah karena akibat gaul bebas, bisa kita minimalisir atau bahkan eliminasi sama sekali. Paling nggak ketika kita berhubungan dengan lawan jenis, itu ada batasannya. Tidak sembarangan. Cowok dan cewek boleh-boleh saja bergaul tapi tentu ada rambu-rambu yang harus ditaati bersama. Ada aturan yang harus diketahui barengan. Kapan boleh gaul kapan harus menjauh.

Dalam pandangan Islam, sebenarnya kehidupan laki dan perempuan itu terpisah. Islam menetapkan aturan bahwa laki dan perempuan itu terpisah kehidupannya, baik dalam kehidupan umum-di masyarakat, seperti di sekolah, jalan umum, bis, angkot, dan di pasar-maupun dalam kehidupan khusus-di tempat pribadi, seperti rumah atau tempat kost. Tapi Islam tidak kejam dengan membiarkan selamanya terpisah seperti itu. Ada saat-saat tertentu yang dibolehkan bagi cowok dan cewek untuk berkumpul dan berinteraksi. Malah dalam beberapa kondisi, pertemuan antara keduanya tidak mungkin dihindari.

Nah, lalu kapan dan dimana boleh bertemu dengan lawan jenis? Kita boleh-boleh saja berkumpul dan berinteraksi dengan lawan jenis di tempat tempat umum (tempat dimana seseorang tidak perlu minta ijin untuk masuk ke dalamnya, seperti masjid, sekolah dsb), dalam aktivitas yang dibolehkan oleh syara. Di pasar misalnya, kita boleh berkumpul dan berinteraksi dengan penjual lain. Tapi hanya sebatas urusan jual beli. Tidak boleh ada embel-embel lain yang keluar dari jual beli.

Kemudian tempat lain yang dibolehkan berkumpul dan berinteraksi adalah dalam belajar-mengajar, dalam urusan pengobatan dan bentuk muamalah lainnya. Tapi meski di tempat-tempat umum itu dibolehkan untuk berkumpul dan berinteraksi, mata kita jangan jelalatan. Tetap harus menjaga pandangan dan juga hal-hal yang bisa menjungkirkan kita ke dalam jurang kemaksiatan. Kalau untuk berkumpul di tempat khusus, seperti rumah pribadi, mobil pribadi, dan tempat-tempat pribadi lainnya, maka yang perempuan tidak dibenarkan untuk berinteraksi dengan lawan jenis secara mutlak kecuali bila disertai mahrom. Misalnya, jika cowok-terpaksa harus berkunjung ke rumah lawan jenis karena ada urusan yang sangat penting (masalah dakwah, misalnya)–, pastikan bahwa temanmu disertai mahromnya, bisa bapaknya atau kakaknya.

Selanjutnya kita harus tahu apa yang semestinya diperhatikan ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Baik laki maupun wanita, bila keluar rumah harus menutup auratnya. Daerah aurat laki-laki adalah sebatas pusar sampai lutut. Sedangkan wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Makanya untuk yang wanita, diwajibkan memakai pakaian sempurna yang terdiri dari jilbab (pakaian luar) dan kerudung (khimar) sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al Ahzab ayat 59 dan An Nuur ayat 31. Dan jelas konsekuensinya haram bagi wanita yang nekat keluar rumah tanpa busana yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya.

Juga bagi para wanita ada larangan tersendiri dalam urusan ini, yakni jangan bertabaruj/ alias tampil all out atau berlebihan. Yakni dengan memamerkan kecantikan dan perhiasan di hadapan laki-laki yang bukan mahrom. Firman Allah: ‘..dan janganlah kamu bardandan seperti, dandanan perempuan (Jahiliyah) yang dahulu… (QS. AI Ahzab 33). Survei membuktikan bahwa kebanyakan malapetaka pelecehan seksual itu berawal dari sikap tampil nekatnya para wanita sendiri.

Makanya bagi kamu yang wanita harap hati-hati. Tak perlu seperti burung merak yang suka pamer bulu-bulu indahnya. Kamu manusia yang punya akal, jangan sampai dandanmu membuat klepek klepek kaum Adam. Khusus untuk urusan busana, yang wanita tidak usah mengikuti gayanya Claudia Schieffer atau Naomi Campbel yang mahir berlenggak-lenggok di atas cat walk dengan body dibalut beberapa helai benang. Apalagi sampai tampil polos, seperti aksi nekatnya Kate Winslet di film Titanic dan Demi Moore di film Streptease.

Langkah berikutnya. Kamu harus menundukan pandangan ketika interaksi dengan lawan jenismu. Maksudnya adalah harus bisa menahan diri dari pandangan yang diharamkan. Yakni memandang aurat atau kepada selain aurat tapi dibarengi dengan syahwat. Pokoknya kalau sudah bisa menundukkan pandangan alias ghadhul bashar ini, lnsya Allah bisa saling menjaga kesucian dan kehormatan diri.

Kemudian ketika kamu berbicara dengan lawan jenis harus diperhatikan intonasi dan gaya bicaranya. Bagi wanita, jangan sekali-kali ketika berinteraksi dengan anak cowok menggunakan gaya bicara yang mendayu-dayu. Suaranya dibuat merdu merayu hingga menyisakan rasa penasaran yang amat sangat bagi kaum lelaki. Firman Allah: “Jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lemah lembut (mengucapkan perkataan, nanti orang orang yang dalam hatinya ragu ingin kepadamu. Dan berkatalah dengan perkataan yang balk. ” (QS. Al Ahzab 32).

Masalah yang harus diperhatikan juga adalah, jangan sekali-kali kamu berkhalwat atau berdua duaan (mojok) dengan lawan jenis. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat dengan seorang wanita sedangkan wanita itu tidak bersama mahromnya Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan”. (HR. Ahmad).

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (H.R. Ahmad)

Terakhir, sebagai sekedar saran tapi penting juga untuk diterapkan adalah pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Insya Allah itu akan meredam keinginan kita terhadap aktivitas gaul bebas yang memang berbahaya itu.

Firman Allah Swt:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS an-Nûr 30).

Sobat, itu tadi sederet aturan yang kudu kamu pake ketika kamu bergaul. Dan peraturan tadi sifatnya personal. Karena emang nggak bisa seratus persen mengandalkan individu untuk bisa menghapus pergaulan bebas di kehidupan kita. Trus gimana dong ? Ya, Jawabannya adalah negara kudu ikut campur.

(disarikan dari buku Rapor Merah Valentine’s Day, Karya Luky B Rouf)

Oleh: Luky B Rouf
[ page Media Islam Online]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s